Laporan  Mata  Kuliah Lingkungan Pertanian dan Biosistem


PEMBIBITAN TANAMAN KELAPA SAWIT

Oleh:
Kelompok 3

NADIATUL HIKMAH                      1705106010026
DENI ISWANDI                                 1705106010027
FARADILLA                                      1705106010030
KHALISA                                           1705106010034
IHSAN ALFATA MULYADI           1705106010038








PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM
2017

KATA PENGANTAR

 


Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan yang berjudul “Pembibitan Tanaman Kelapa Sawit
Laporan ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.    
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

    
                                                                               Banda Aceh, 1
0 november 2017
    

                                                                                       
(Penyusun)

DAFTAR ISI








                                                                                                                

BAB I  

PENDAHULUAN



1.1.       Latar Belakang

Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi di pasaran. Dalam budidayanya, cara pembibitan kelapa sawit tidak bisa dipisahkan karena cukup berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas dan kuantitas hasil produksi tanaman kelapa sawit. Kelapa sawit yang memiliki nama latin Elaeis guineensis Jacq ini tidak hanya berorientasi pada pasar lokal tapi juga pasar global sehingga para pengusaha kelapa sawit dituntut untuk bisa menghasilkan kualitas produk yang tinggi tanpa mengganggu kelestarian lingkungan. Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.

1.2.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang dihadapi bagaimana melakukan pembibitan dengan baik agar dapat menghasilkan tanaman yang berkualitas.

1.3.       Tujuan

Tujuan dari pembuatan laporan ini yaitu meningkatkan pengetahuan,kemampuan teknis dan managerial,serta memperoleh pengalamandan ktermapilan dan untuk mempelajari pembibtan tanaman kelpa sawit

1.4.       Manfaat

Laporan ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai pengtahuan dan wawasan untuk mahasiswa dan dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat tentang pembibitan tanaman.


























BAB II

METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1.  Tempat dan Waktu
Adapun praktikum tentang pembibitan tanaman dilakukan di PT.Socfindo Seumayam,Nagan Raya dan PT.Mapoli Raya Meulaboh,Aceh Barat pada tanggal 22 oktober 2017 dengan mendatangi lansung tempat  tersebut .

2.2 Pengamatan dan Pengumpulan Data
Adapun pengamatan dan pengumpulan data dalam penelitian pembibitan tanaman dalam kegiatan fieldtrip dilakaukan dengan cara wawancara langsung dengan karyawan PT.Sacfindo dan PT.Mapoli Raya dengan mendatangi langsung tempat pembibitan tanaman.













 





BAB III

PEMBAHASAN


Biasanya bahan tanaman yang dibeli berupa kecambah untuk dibibitkan karena kalau bibit siap tanam, transportasinya mahal dan kemungkinan banyak bibit rusak dalam perjalanan. Sebelum menerima kecambah benih, fasilitas untuk pesemaian dan pembibitan sudah disiapkan sesuai dengan sistem pembibitan yang dipilih.

a.    Pemilihan lokasi dan persiapan areal
Secara umum, persyaratan yang sebaiknya dipenuhi untuk lokasi pembibitan meliputi: (a) dekat kebun, (b) dekat sumber air dan sumber tanah pengisi kantong plastik, (c) datar dengan kemiringan < 15 derajat dan drainase baik, (d) akses jalan yang baik dalam segala cuaca, (e) terhindar dari banjir dan angin kencang, (f) aman dari gangguan hama, terutama hewan seperti babi hutan, (g) terbuka sehingga mendapat cahaya penuh, dan (h) dekat emplasemen atau rumah untuk memudahkan pengawasan.

Setelah lahan dibersihkan, tanah diratakan dan dibuat parit-parit drainase. Luas areal pembibitan tergantung pada rencana luas areal dan tahapan penanaman. Sebagai pedoman, kebutuhan benih sekitar 30 - 40 % di atas rencana termasuk kebutuhan untuk sulaman. Biasanya digunakan ratarata200 butir benih per hektar.

b.    Sistem pembibitan
Ada dua sistem pembibitan kecambah kelapa sawit, yaitu (1) sistem dua tahap dan (2) sistem satu tahap. Pembibitan dua tahap terdiri atas pembibitan pendahuluan (pre-nursery) dalam kantong plastik kecil hingga bibit berumur 3 – 4 bulan baru dilanjutkan dalam pembibitan utama (mainnursery) menggunakan kantong plastik besar hingga bibit berumur 10 – 14 bulan. Sedangkan pembibitan satu tahap, kecambah langsung ditanam dalam kantong plastik besar hingga umur siap dipindahkan ke lapang.
c.    Pembibitan pendahuluan (Pre Nursery)
Pembibitan pendahuluan dapat dilakukan menanam kecambah di atas bedengan atau di dalam kantong plastik kecil. Penggunaan bedengan tidak dianjurkan karena pemeliharaan lebih sulit dan seleksi bibit tidak bisa intensif serta banyak bibit yang rusak pada saat pemindahan ke kantong plastik besar.

·      Persiapan untuk pembibitan pendahuluan
Bedengan dibuat dengan cara meninggikan permukaan tanah atau membuat parit drainase pembatas selebar 50 cm dan dalam 15 – 20 cm sedemikian rupa sehingga terbentuk bedengan berukuran lebar yang dapat memuat 12 kantong plastik dan panjang 10 - 12 m.
Selanjutnya, diberi naungan dengan tiang 2 m dan atap dari pelepah daun kelapa atau kelapa sawit sedemikian rupa hingga intensitas cahaya sekitar 40%. Dapat juga menggunakan paranet yang meloloskan cahaya 40 % tetapi biayanya menjadi mahal.
Siapkan kantong plastik berukuran15 x 20 cm dengan lobang di bidang alas dan keliling sisi bagian bawah, lalu isi dengan tanah lapisan atas (top soil), kemudian susun rapat di bedengan. Agar kantong plastik tidak rebah, diberi penahan dari papan atau belahan bamboo. Siram tanah dalam kantong palstik setiap hari selama 2 –3 hari sebelum penanaman kecambah supaya tanah agak memada
·      Penanaman Kecambah
Kantong kecambah dikeluarkan dari kotak secara hati-hati dan ditempatkan dalam baki dangkal berisi air agar kecambah tetap dingin. Kantong dibuka dan diperciki dengan air untuk mempertahankan kelembaban. Lakukan seleksi benih agar benih yang ditanam betul-betul hanya yang berkualitas baik. Kecambah yang patah, busuk, dan abnormal tidak boleh ditanam. Disamping itu, dapat dilakukan uji kualitas melalui pendekatan uji bobot jenis dengan cara memasukkan seluruh benih dari setiap kantong ke dalam ember yang berisi air bersih. Benih yang kurang baik akan mengambang sehingga mudah memisahkannya.

Buat lobang di permukaan tanah dalam kantong plastik dengan jari atau kayu sedalam sekitar 4 cm tepat ditengah. Tanam kecambah dengan posisi sedimikian rupa sehingga calon akar (radikula, bagian ujungnya tumpul) mengarah tegak lurus ke bawah dan calón tunas atau plúmula berbentuk runcing ke arah atas, lalu tutupi dengan tanah secara hati-hati sehingga sedikit di bawah permukaan tanah, Sebagai pedoman, tempurung paling atas berada sekitar 1 - 1,5 cm di bawah permukaan tanah.

Penanaman dilakukan menurut kelompok kantong kecambah dan diberi label sesuai dengan label yang terdapat pada kemasannya. Lakukan penyiraman secara hati-hati agar tanah dalam kantong plastik tidak terbongkar. Periksa setiap hari untuk memastikan bahwa tdak ada benih yang terbuka atau terangkat ke permukaan tanah dalam kantong plastik.
d.   Pembibitan utama (Main Nursery)
Pembibitan utama dapat dilakukan dalam lokasi yang sama dengan pembibitan pendahuluan atau lokasi terpisah.
1. Persiapan lokasi pembibitan utama.

- Rapikan kembali areal yang telah disipakan sebelumnya, terutama pembersihan gulma, perbaikan saluran drainase, dan pemeriksaan fasilitas pengairan

- Dua minggu sebelum pemindahan bibit dari pembibitan pendahuluan, seluruh kantong plastik untuk pembibitan utama sudah disiapkan.

- Siapkan media berupa tanah lapisan atas untuk pengisian kantong plastik sebanyak 25 – 30 kg/kantong. Tanah diayak dengan ayakan kawat 1 – 2 cm. Penyiapan media ini sebaiknya mulai dilakukan 6 - 8 Minggu sebelum jadwal pindah-tanam ke kantong plastik besar, agar seluruh persiapan selesai tepat sesuai jadual.

- Tanah yang telah diayak dicampur rata dengan SP-36 sebanyak 25 -30g/kantong. Jika tanah berliat, dapat ditambahkan pasir halus atau pupuk organik dengan perbandingan 3:1 (v/v).

- Siapkan kantong plastik ukuran 40 x 50 x 0,012 cm yang dilubangi 3 baris mulai dari bagian tengah ke bawah dengan jarak antar lubang 10 cm, lalu diisi dengan media tanam yang telah disiapkan hingga 2 cm dari bibir atas kantong.

- Lakukan pemancangan ajir di areal pembibitan dengan jarak tanam 90 x 90 x 90 cm (diukur dari pusat kantong plastik), sistem segi tiga sama sisi . Setiap 5 baris bibit (40 atau 50 pokok/baris) dikosongkan satu baris untuk jalan control Dengan demikian terdapat 17.000 bibit/ha.

- Kantong plastik yang telah terisi tanah, disusun dengan baik di areal pembibitan sesuai dengan ajir yang sudah ditancapkan sebelumnya. Usahakan agar semua kantong berdiri tegak supaya bibit tidak tumbuh miring.
2. Pemindahan bibit ke pembibitan utama
- Pemindahan bibit dari pembibitan pendahuluan dilakukan setelah bibit berumur 3 – 4 bulan, atau pada saat daun bibit sudah mencapai 3 – 4 helai.

- Sehari sebelum dipindahkan, bibit harus disiram sampai seluruh tanah dalam kantong plastik jenuh agar tanah pada perakaran tetap lembab dan tidak terganggu selama proses pemindahan.

- Pengangkutan bibit untuk diecer ke dekat kantong plastik besar dilakukan sesuai dengan nomor kelompoknya agar tidak tercampur antar kelompok.

- Bibit yang abnormal atau terserang penyakit, biasanya sekitar 10 %, dipisahkan lalu dimusnahkan.

- Lubang tanam pada kantong plastik besar harus dibuat sesuai ukuran kantong plastik kecil kemudian diberi pupuk NPK 15-15-6-4 sebanyak 5 g /polibag.

- Bibit dipindahkan dengan cara mengiris melingkar pada bagian dasar kantong hingga tersisa sepertiga lingkaran, lipat potongan alas kantong ke atas sisi bagian yang tidak teriris, masukkan dalam lobang tanam dalam kantong plastik besar, lalu tutup dengan tanah. Cabut kantong plasik ke atas melalui bibit kemudian lanjutkan penutupan tanah sambil tekan dengan jari hingga rata dengan permukaan tanah bibit.

- Bibit harus segera disiram setelah pemindahan selesai

3. Pemeliharaan pada pembibitan pendahuluan
- Penyiraman. Cara penyiraman dapat dilakukan menggunakan gembor, slang, curah (sprinkler), atau irigasi tetes(drip irrigation). Pembibitan oleh petani perorangan dengan jumlah bibit sedikit, cukup menyiram dengan gembor atau slang. Penyiraman harus dilakukan dengan cermat, jangan sampai terlalu berlebihan sehingga terlalu basah atau kurang sehingga bagian bawah tetap kering. Jumlah dan frekuensi penyiraman harus memperhatikan pola curah hujan setempat dan umur bibit. Sesekali lakukan pengecekan kelembaban tanah dalam kantong plastik. Jika diperlukan, misalnya di musim panas, dilakukan penyiraman dua kali sehari, pagi dan sore.

- Pengendalian gulma. Pengendalian gulma dilakukan secara manual dilakukan setiap 2 minggu sekaligus untuk menggemburkan permukaan tanah dalam kantong plastik sehingga memudahkan air siraman meresap. Gulma di antara kantong plastik bibit juga disiangi secara manual.Tidak dibenarkan menggunakan herbisida karena dapat merusak daun bibit.

- Pemupukan dilakukan seminggu sekali menggunakan pupuk urea sebanyak 2 gram/liter air dengan cara disemprotkan dan pupuk NPK 15: 15: 6,4 sebanyak 2,5
gram/polibag. Jika tanah kekurangan magnesiaum dapat diberikan kiserit sebanyak 30 g/bibit.

- Pengendalian hama dan penyakit. Secara umum gangguan hama di pembibitan tidak serius. Gangguan penyakit pada pembibitan awal umumnya disebabkan cendawan daun dan penyakit fisiologis karena kekurangan salah satu unsur hara. Secara umum, gangguan penyakit dan hama dapat dicegah dengan pengelolaan lingkungan yang baik seperti pengaturan naungan, pengendalian gulma yang disertai monitoring yang baik. Pengendalian dilakukan jika timbul gejala dan cenderung meningkat dengan pestisida biologis atau kimiawi.

- Seleksi bibit. Bibit yang tumbuh abnormal (kerdil, daun tegak kaku, memanjang, atau daun tidak berkembang baik), patah, busuk atau terserang penyakit dicabut dan dimusnahkan. Seleksi bibit di pembibitan pendahuluan dilakukan dua kali yaitu pada umur sekitar 1,5 bulan dan pada saat pemindahan ke pembibitan utama.
- Pemeriksaan berkala. Lakukan pengontrolan secara teratur sambil menegakkan kembali kantong plastik bibit yang miring atau rebah, menutup dan meratakan tanah sekeliling kecambah (jangan menekan tanah terlalu kuat) atau bibit. Lakukan penggemburan tanah dalam kantong plastik secara periodik karena permukaan tanah biasanya menjadi padat dan kedap air akibat penyiraman terus menerus. Lapisan padat tersebut menyebabkan air siraman sulit menembus lapisan bawah tanah dalam kantong plastik sehingga air banyak terbuang.
4. Pemeliharaan pada pembibitan utama
- Penyiraman. Penyiraman diperlukan untuk mengimbangi air yang digunakan tanaman dalam proses pertumbuhannya, termasuk yang dilepas ke udara melalui
proses evaporasi dan transpirasi yang berlangsung secara simultan. Setiap bibit membutuhkan air rata-rata 2,25 liter atau setara dengan curah hujan efektif 3,4 mm. Dengan demikian jika turun hujan dalam jumlah memadai (minimal6 - 8 mm), tidak perlu dilakukan penyiraman. Kelebihan atau kekurangan air penyiraman sama–sama berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan bibit. Oleh karena itu penyiraman harus dilakukan secara hati-hati, jangan diguyur seperti hujan lebat tetapi seperti hujan ringan. Jika diperlukan, terutama untuk bibit yang sudah besar (>8 bulan), penyiraman dilakukan 2 kali sehari.

- Penyiangan gulma. Penyiangan gulma di dalam polibag dilakukan secara manual sekali sebulan, dengan cara dicabut sekaligus menggemburkan lapisan atas tanah dalam kantong plastik. Sedangkan gulma di antara polibag dapat dikendalikan secara manual menggunakan garuk setiap bulan atau secara kimiai (herbisida) secara hati-hati dengan frekuensi 2 – 3 bulan sekali.
- Pemupukan. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditaburkan secara merata di sekeliling bibit kira-kira 5 cm dari pangkal batang dengan hati-hati. Usahakan jangan sampai pupuk mengenai bibit. Aplikasi pemupukan dengan dosis kecil dan frekuensi sering lebih baik dibandingkan aplikasi dosis besar tapi frekuensi jarang. Sebaiknya pemupukan minimal sekali dalam sebulan dan harus dihentikan satu bulan sebelum dipindahkan ke lapangan. Bahan pupuk yang digunakan bisa berupa campuran pupuk tunggal seperti urea, SP-36, KCl, dan kiserit atau menggunakan pupuk NPK majemuk dengan perbandingan yang paling mendekati kebutuhan tanaman

- Pengendalian hama dan penyakit. dilakukan apabila ada gejala serangan dengan menggunakan fungisida dan pestisida secara bijaksana. Tindakan pencegahan tidak diperlukan, tetapi monitoring harus dilakukan secara berkelanjutan agar secepatnya diambil tindakan jika sudah mulai timbul gejala..

- Seleksi bibit dilakukan untuk memusnahkan bibit abnormalseperti anak daun tersusun jarang atau rapat, permukaan tajuk rata atau tegak meninggi dan kaku, kerdil, anak daun memendek dan mengerut, anak daun memanjang dan sempit, anak daun tidak membelah secara normal, anak daun menggulung, dan terserang penyakit atau hama. Seleksi dimulai saat pindah tanam dari pembibitan pendahuluan dilanjutkan pada umur 6 dan 8 bulan serta saat akan pindah tanam ke lapangan







.




BAB IV

PENUTUP


5.1  Kesimpulan

            Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada makalah ini, yaitu:
1. Di lihat dari budidayanya tanaman kelapa sawit sangat cocok dibudidayakan  di Aceh bagian barat selatan.
2. Aspek pemasaran bibit kelapa sawit sangat mudah dan menjamin.
3. Dengan adanya perkebuna kelapa sawit (PT. Mopoli Raya Meulaboh, Aceh Barat dan PT. Socfin Indonesia Seumayam, Nagan Raya) dapat mengurangi pengangguran karena adanya lapangan kerja.
4 Dengan adanya laporan ini penulis memperoleh tambahan pengalaman untuk melaksanakan usaha tani khususnya pembibitan kelapa sawit mendatang.

5.2  Saran

Saran untuk laporan ini yaitu:
1.Untuk dapat memanfaatkan dan mengembangkan lahan yang masih luas, terutama untuk pengembangan dibidang kelapa sawit.
2.Diharapkan kedepan dari pihak fakultas agar melakukan supervise yang matang  untuk pelaksanaan Fieldtrip mendatang.
3.Hendaknya dalam melakukan usaha pembibitan menggunakan bibit unggul.













DAFTAR PUSTAKA


Syakir. M. 2010. Budidaya KELAPA SAWIT. Aska Media. Bogor.







Komentar